Senin, 19 Februari 2018

Doa setelah wudhu

Sunnah yang jarang dipraktekkan : mengucapkan doa setelah wudhu,

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu anlaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaih,

Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

Doa ini juga merupakan doa penutup majelis.

Jumat, 08 Desember 2017

3 Amalan Menggapi Surga

Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.
(HR. An-Nasai)

Barangsiapa yang sholat dua belas rakaat pada siang dan malam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga
(HR. Muslim no. 728)

barang siapa yang membaca Qul Huwallahu Ahad sampai akhir surat , sepuluh kali, Allah akan bangunkan bagi dia Istana di surga
(HR. Imam Ahmad)

Sabtu, 04 November 2017

Niat SHOLAT

Download Video nya untuk lebih jelas nya<b><a href="http://carasholat.com/tata-cara-niat-dalam-shalat-sesuai-sunnah-nabi/"> Download Disini </a></b><br/><br/><b>1. Niat ikhlas </b>dalam ibadah adalah bagian dari rukun diterimanya ibadah. Nabishallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Semua amal tergantung pada niatnya." <b>(HR. Bukhari)<br/><br/>2. Niat adalah amal yang tempatnya di hati. </b>Oleh karena itu, tidak boleh me-lafal-kan niat dalam melakukan ibadah apapun. Termasuk shalat.<br/><br/>Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, orang yang paling sempurna ibadahnya, tidak pernah mengajarkan maupun mengamalkan lafal niat dalam ibadah apapun. Maka perbuatan me-lafal-kan niat termasuk diantara perbuatan yang menyelisihi ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.<br/><br/><b>3. Selama sudah ada lintasan hati </b>untuk melakukan shalat tertentu maka ini sudah dianggap berniat. Oleh karena itu, yang perlu dihadirkan dalam hati ketika hendak shalat adalah:<br/><br/>Shalat karena mengikuti perintah Allah dan RasulNya shallallahu 'alaihi wasallam. Nama shalat yang hendak dikerjakan, misalnya shalat dzuhur atau asar.<br/><br/><b>4. Berubah niat di tengah-tengah shalat</b> Berubah niatdari shalat tertentu ke shalat tertentu yang lain, hukumnya tidak boleh.<br/><br/><b>Contoh;</b><ol> Adi tidak bisa shalat dzuhur karena sedang di kendaraan. Adi baru bisa shalatdi waktu asar. Ketika sampai rumah di waktu asar, Adi shalat4 rakaat dengan niat shalat asar.<br/><br/>Di tengah-tengah shalat dia teringat belum shalat dzuhur. Maka Adi tidak boleh tetap shalat dengan mengubah niatnya semula menjadi niat shalat dzuhur. Namun Adi harus membatalkan shalatnya dan memulai shalat lagi dengan niat shalat dzuhur.</ol><br/><br/><b>Berubah niat dari shalat mutlak ke shalat tertentu, hukumnya tidak boleh. </b><br/><br/>Contoh; <ol>Ari shalat mutlak pada jam 9 pagi. Kemudian dia teringat bahwasanya ini adalahwaktu untuk shalat duha. MakaAri tidak boleh mengubah niatnya menjadi shalat dluha.<br/><br/>Namun jika Ari ingin shalat duha maka dia mulai shalat dari awal dengan niat shalat dlha.</ol><br/><br/><b>Berubah niat dari shalat tertentu ke shalat mutlak,</b> hukumnya boleh dan shalat sah.<br/><br/><b> Contoh; </b><ol>Budi memiliki kebiasaan shalat sunah rawatib di rumahnya. Suatu ketika dia mengerjakan shalat sunah setelah isya' di masjid. Ketika sampai rumah dia lupa kalau dia telah shalat sunah setelah isya'.<br/><br/>Kemudian Budi melakukan shalat 2 rakaat dengan niat shalat sunah setelah isya'. Di tengah shalat dia teringat bahwa dia sudah shalat sunah setelah isya'. Maka Budi boleh langsung mengubah niat shalatnya menjadi shalat mutlak.</ol><br/><br/><b>Catatan: shalat sunah ada dua:</b><br/><br/><ul><li>Shalat sunah <b>Muqayad</b> shalat sunnah yang terikat tempat maupun waktu. Misalnya: shalat duha, rawatib, witir, dll.<br/><br/></li><li>Shalat sunah <b>Mutlak</b> adalah shalat sunnah yang tidak terikat tempat maupun waktu. Maksudnya, yang penting mengerjakan shalat kapanpun dan di manapun selama tidak di waktu atau tempat terlarang.</ul></li><br/><br/><b>Kesalahan Terkait dengan Niat Ketika Shalat </b><br/><br/><b>1. Mengeraskan bunyi niat</b> (melafalkan niat). Al Qodli Abur Rabi' As Syafi'i mengatakan: "Mengeraskan niat dan bacaan di belakang imam bukanlah bagian dari sunah.<br/><br/>Bahkan ini adalah sesuatu yang dibenci. Jika ini mengganggu jamaah shalat yang lain maka hukumnya haram." (Al Qaulul Mubin 91).<br/><br/><b>2. Menyusun kalimat tertentu </b>untuk diucapkan di hati. Misalnya, disusun kalimat, "Saya niat shalat asar karena Allah.." kemudian kalimat ini diucapkan di hati setiap hendak melakukan shalat. Hal ini termasuk bentukmelafalkan niat.<br/><br/><b>3. Meyakini bahwa niat harus berbarengan dengan takbiratul ihram.</b> Keyakinan ini menyebabkan sebagian orang melakukan takbir berulang-ulang karena ragu apakah niatnya sudah bareng dengan takbiratul ihramataukah belum.<br/><br/><b>4. Sering was-was </b>ketika niat. Imam Syafi'i mengatakan: "Was-was ketika niat shalat dan bersuci adalah bentuk kebodohan dengan syariat dan kurang akalnya." (AlQaulul Mubin 93).<br/><br/><b>Catatan: </b><br/>Sebagian orang yang bermadzhab Syafi'iyah salah paham terhadap ucapan Imam Syafi'i. Mereka mengira bahwa Imam Syafi'i mewajibkan me-lafal-kan niat. Imam As Syafi'i mengatakan: "'.shalat itu tidak sah kecuali dengan an-nuthq." (Al Majmu' 3/277).<br/><br/>An Nuthq artinya berbicara atau mengucapkan. Sebagian Syafi'iyah memaknai An Nuthq di sini dengan melafalkan niat. Padahal ini adalah salah paham terhadap maksud beliau rahimahullah.<br/><br/>Dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud dengan An Nuthq di sini bukanlah mengeraskan bacaan niat.<br/><br/>Namun maksudnya adalah mengucapkan takbiratul ihram.An Nawawi mengatakan,"Ulama kami (syafi'iyah) mengatakan: orang yang memaknai demikian adalah keliru. Yang dimaksud As Syafi'i dengan An Nuthq ketika shalat bukanlah melafalkan niat namun maksud beliau adalah takbiratul ihram." (Al Majmu' 3/277).<br/><br/>Kesalah-pahaman ini juga dibantah oleh Abul Hasan Al Mawardi As Syafi'i, beliau mengatakan, "Az Zubairi telah salah dalam mentakwil ucapanImam Syafi'i dengan wajibnya mengucapkan niat ketika shalat.<br/><br/><b>Ini adalah takwil yang salah,</b>yang dimaksudkan wajibnya mengucapkan adalah ketika ketika takbiratul ihram." (Al Hawi Al Kabir 2/204).<br/><br/>

Doa Iftitah

<br/>Pada tutorial tata cara shalat yang baik dan benar berikut ini membahas tentang bacaan sholat, yaitu membaca Do'a Iftitah.<br/><br/><b>1. Do'a iftitah disebut juga istiftah</b> adalah do'a yang dibaca setelah takbiratul ihram.<br/><br/><b>2. Ada beberapa macam</b> do'a yang diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Untuk itu, setiap muslim dianjurkan untukmembaca do'a-do'a tersebut secara bergantian.<br/><br/>Misalnya, shalat subuh membaca do'a iftitah tertentu kemudian shalat dluhur membaca do'a iftitah yang lain.<br/><br/>Dengan demikian semua sunah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan lestari dan terjaga.<br/><br/><b>3. Do'a iftitah dibaca pelan,</b> baik makmum, imam, maupun orang yang shalat sendirian.<br/><br/><b>4. Untuk makmum masbuq (ketinggalan)</b> tidak perlu membaca do'a iftitah .<br/><br/><b>5. Macam-macam do'a iftitah: Do'a pertama </b><br/>Allaah-humma baa-'id bai-nii wa bai-na kha-thaa-yaa-ya kamaa baa-'ad-ta bai-nal masy-riqi wal magh-rib. Allaah-humma naqqi-nii min khathaa-yaa-ya kamaa yunaq-qats-tsaubul ab- ya-dlu minad danas. Allaah- hummagh-sil-nii min khathaa- yaa-ya bil maa-i wats-tsalji wal barad.</ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>(Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara Timur dan Barat.<br/><br/>Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana kain putih dibersihkan dari noda. Ya Allah,bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku denganair, dengan salju dan embun.<br/>(HR. Bukhari dan Muslim)</ul><br/><br/><b>Do'a kedua </b><br/>Subhaana-kallaah-hummawa biham-dika wa tabaa-rakas- muka wa ta-'aa-laa jadduka wa laa-ilaaha ghai-ruk.</ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>Maha suci Engkau, ya Allah. Kusucikan nama-Mu denganmemuji-Mu. Nama-Mu penuhberkah. Maha tinggi Engkau.Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau<br/>(HR. Abu Daud dan dishahihkan Al Albani). </ul><br/><br/><b>Do'a ketiga</b> Seperti do'aiftitah di atas, tetapi dengan tambahan bacaan berikut: <br/> Laa-ilaaha-illallaah (3x) <br/>allaahu akbar kabii-raa (3x). </ul></ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>Maha suci Engkau, ya Allah. Kusucikan nama-Mu denganmemuji-Mu. Nama-Mu penuhberkah. Maha tinggi Engkau.Tidak ilah yang berhak disembahselain Engkau, <br/>Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah(3x), <br/>Allah Maha Besar (3x)<br/><br/>Keterangan: Do'a iftitah ini dibaca Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat shalat malam. <br/>(HR. Abu Dauddan dishahihkan Al Albani).<br/><br/><b>Do'a keempat </b><br/>Allaahu akbar kabiiraa walhamdu lillaahi katsiiraa wa subhaa-nallaa-hi buk-rataw wa ashii-laa. <br/></ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>(Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaranNya, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya dan MahaSuci Allah pagi dan petang hari) <br/>(HR. Muslim)<br/><br/>Keterangan: Do'a iftitah ini dibaca oleh salah seorang sahabat ketika shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda:<br/><br/>"Aku kagum dengan do'a ini. Pintu-pintu langit telah dibuka karena do'a ini." Kata Ibn Umar:"Sejak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda demikian Saya tidak pernah meninggalkan do'a ini." <br/>(HR. Muslim)<br/><br/><b>Do'a kelima </b><br/>Al hamdu lil-laahi hamdankatsii-ran thayyi-ban mubaa-rakan fiih</ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>Segala puji bagi Allah denganpujian yang banyak, pujian yang terbaik dan pujian yang penuh keberkahan di dalamnya" <br/>(HR. Muslim) <br/><br/>Keterangan: Do'a ini dibaca oleh salah seorang sahabat ketika shalat jamaah. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku melihat 12 malaikat berlomba siapakah di antara mereka yang mengantarkannya (kepada Allah,) <br/>(HR. Muslim).<br/><br/>Do'a-do'a iftitah berikut adalah do'a yang dibaca Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika shalat malam:<br/><br/><b>Do'a keenam </b><br/>Allaa-humma rabba jib-riila wa mii-kaa-iil wa israafiil. Faa-thiras samaa-waati wal ardl. 'aali-mal ghai-bi was syahaa-dah. Anta tahkumubai-na 'ibaa-dik fii-maa kaa-nuu fiihi yakh-tali-fuun. Ihdi-nii limakh-tulifa fiihi minal haqqi bi-idznik. Innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraa-tim mustaqiim.</ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b><br/>(Ya Allah, Tuhan Malaikat Jibril, Mika'il dan Isrofil, Pencipta Langit dan Bumi, Yang mengetahui Alam Ghoib dan Alam Nyata, Engkaulah Hakim di antara hamba-hamba-Mu di dalam hal-hal yang mereka perselisihkan.<br/><br/>Tunjukkanlah kebenaran kepadaku di dalam apa yang mereka perselisihkan itu dengan idzin Engkau, karena sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus<br/><b>Do'a ketujuh </b><br/>Al hamdu lil-laah (10 X) <br/>Allaahu akbar (10 X) <br/>Laa-ilaaha-illallaah (10 X) <br/>Subhaa-nallaah (10 X) <br/>As-tagh-firullaah (10 X) <br/>Allaah-hummagh fir lii wah-dinii war-zuqnii wa 'aa-finii(10 kali) <br/>Allaah-humma innii a-'uudzu bika minad Dhii-qi yaumal hisaab (10 kali) <br/>(HR. Ahmad & Abu Daud dan dishahihkan Al Albani)</ul><br/><br/><b>Do'a kedelapan </b><br/>Allaahu akbar (3 kali) Dzul-malakuut wal jaba-ruut wal kib-riyaa' wal 'a-dza-mah</ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>(Allah Maha Besar 3x, Yang Mempunyai Kerajaan yang Amat Besar, Kekuasaan, Kebesaran dan Keagungan). <br/>(HR. Abu Daud dan dishahihkan Al Albani).</ul><br/><br/><b>Kesalahan bacaan sholat terkait membaca do'a iftitah:</b><br/><ol><li> Tidak membaca do'a iftitahpadahal ada kesempatan untukmembacanya. Karena sikap ini berarti menyia-nyiakan sunah dalam shalat.<br/><br/>Imam Syafi'i rahimahullah mencela sikap orang yang tidak meniru cara shalat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.<br/><br/></li><li> Makmum yang ketinggalanmenyibukkan diri dengan membaca doa iftitah, padahal imam sudah mau rukuk. Koreksi ini bukanlah saran agardo'a iftitah ini ditinggalkan totalketika menjadi makmum.<br/><br/>Namun jika waktu yang dimilikioleh makmum itu terbatas karena imam sebentar lagi mau rukuk maka sebaiknya makmum mendahulukan yang wajib dari pada yang sunah.<br/><br/>Dan telah diketahui bersama bahwa do'a iftitah hukumnya sunah sedangkan membaca al-fatihah hukumnya wajib. Oleh karena itu, selayaknya makmum yang ketinggalan danimam sudah mau rukuk maka sebaiknya makmum tidak perlumembaca iftitah namun langsung membaca al fatihah.<br/><br/>Dikisahkan bahwa Ibnul Jauzi pernah shalat dibelakang gurunya Abu Bakr Ad Dainuri. Ibnul Jauzi ketinggalan dan imam sudah mau rukuk. TetapiIbnul Jauzi malah sibuk membaca do'a iftitah. Ketika mengetahui hal ini, gurunya menasehatkan:<br/><br/>"Sesungguhnya ulama berselisih tentang wajibnya membaca surat al fatihah di belakang imam, namun merekasepakat bahwa do'a iftitah adalah sunnah. Maka sibukkanlah dirimu dengan yang wajib dan tinggalkanlah yang sunah." (Al Qoulul Mubin, dinukil dari Talbis Iblis).<br/><br/></li><li> Imam membaca do'a iftitahterlalu panjang. Yang lebih tepat adalah selayaknya imam memilih doa iftitah yang pendek.<br/><br/></li><li> Memilih do'a iftitah satu saja dan meninggalkan do'a yang lain. Kemudian do'a yang dipilih tersebut dibaca dalam semua shalat dari sejak SD sampai tua.<br/><br/>Kesalahan ini memberikan dampak buruk sebagai berikut: Sunah adanya bacaan iftitah yang lain menjadi hilang dan tidak lestari. Karena ketika banyak orang meninggalkannya maka orang akan menganggap itu bukan ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.<br/><br/>Munculnya sikap fanatisme golongan. Sebagimana yang terjadi di tempat kita. Orang yang iftitahnya: Allaahumma baa'id bainii' dianggap golongan A, sedangkan yang iftitahnya: Allaahu akbar kabiiraa 'dianggap golongan B. Ini adalah musibah yang menimpa kaum muslimin indonesia.</li></ol><br/><br/>Kita ucapkan innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Orang yang shalat menjadi kurang bisa khusyu'. Karena orang yang hafal satu bacaan iftitah saja maka setiap memulai shalat secara otomatis dia akan membaca do'a tersebut tanpa merenungkan terlebih dahulu.<br/><br/>Berbeda dengan orang yang hafal beberapa macam do'a iftitah, maka sebelum membaca dia akan merenungkan terlebih dahulu do'a apa yang harus dia baca.<br/><br/>Semoga tutorial bacaan sholat ini bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin agar dapat mengamalkan dan mempraktekkannya dalam ibadah shalat sehari-hari.<br/><br/>

Doa Iftitah

<br/>Pada tutorial tata cara shalat yang baik dan benar berikut ini membahas tentang bacaan sholat, yaitu membaca Do'a Iftitah.<br/><br/><b>1. Do'a iftitah disebut juga istiftah</b> adalah do'a yang dibaca setelah takbiratul ihram.<br/><br/><b>2. Ada beberapa macam</b> do'a yang diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Untuk itu, setiap muslim dianjurkan untukmembaca do'a-do'a tersebut secara bergantian.<br/><br/>Misalnya, shalat subuh membaca do'a iftitah tertentu kemudian shalat dluhur membaca do'a iftitah yang lain.<br/><br/>Dengan demikian semua sunah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan lestari dan terjaga.<br/><br/><b>3. Do'a iftitah dibaca pelan,</b> baik makmum, imam, maupun orang yang shalat sendirian.<br/><br/><b>4. Untuk makmum masbuq (ketinggalan)</b> tidak perlu membaca do'a iftitah .<br/><br/><b>5. Macam-macam do'a iftitah: Do'a pertama </b><br/>Allaah-humma baa-'id bai-nii wa bai-na kha-thaa-yaa-ya kamaa baa-'ad-ta bai-nal masy-riqi wal magh-rib. Allaah-humma naqqi-nii min khathaa-yaa-ya kamaa yunaq-qats-tsaubul ab- ya-dlu minad danas. Allaah- hummagh-sil-nii min khathaa- yaa-ya bil maa-i wats-tsalji wal barad.</ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>(Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara Timur dan Barat.<br/><br/>Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana kain putih dibersihkan dari noda. Ya Allah,bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku denganair, dengan salju dan embun.<br/>(HR. Bukhari dan Muslim)</ul><br/><br/><b>Do'a kedua </b><br/>Subhaana-kallaah-hummawa biham-dika wa tabaa-rakas- muka wa ta-'aa-laa jadduka wa laa-ilaaha ghai-ruk.</ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>Maha suci Engkau, ya Allah. Kusucikan nama-Mu denganmemuji-Mu. Nama-Mu penuhberkah. Maha tinggi Engkau.Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau<br/>(HR. Abu Daud dan dishahihkan Al Albani). </ul><br/><br/><b>Do'a ketiga</b> Seperti do'aiftitah di atas, tetapi dengan tambahan bacaan berikut: <br/> Laa-ilaaha-illallaah (3x) <br/>allaahu akbar kabii-raa (3x). </ul></ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>Maha suci Engkau, ya Allah. Kusucikan nama-Mu denganmemuji-Mu. Nama-Mu penuhberkah. Maha tinggi Engkau.Tidak ilah yang berhak disembahselain Engkau, <br/>Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah(3x), <br/>Allah Maha Besar (3x)<br/><br/>Keterangan: Do'a iftitah ini dibaca Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat shalat malam. <br/>(HR. Abu Dauddan dishahihkan Al Albani).<br/><br/><b>Do'a keempat </b><br/>Allaahu akbar kabiiraa walhamdu lillaahi katsiiraa wa subhaa-nallaa-hi buk-rataw wa ashii-laa. <br/></ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>(Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaranNya, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya dan MahaSuci Allah pagi dan petang hari) <br/>(HR. Muslim)<br/><br/>Keterangan: Do'a iftitah ini dibaca oleh salah seorang sahabat ketika shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda:<br/><br/>"Aku kagum dengan do'a ini. Pintu-pintu langit telah dibuka karena do'a ini." Kata Ibn Umar:"Sejak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda demikian Saya tidak pernah meninggalkan do'a ini." <br/>(HR. Muslim)<br/><br/><b>Do'a kelima </b><br/>Al hamdu lil-laahi hamdankatsii-ran thayyi-ban mubaa-rakan fiih</ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>Segala puji bagi Allah denganpujian yang banyak, pujian yang terbaik dan pujian yang penuh keberkahan di dalamnya" <br/>(HR. Muslim) <br/><br/>Keterangan: Do'a ini dibaca oleh salah seorang sahabat ketika shalat jamaah. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku melihat 12 malaikat berlomba siapakah di antara mereka yang mengantarkannya (kepada Allah,) <br/>(HR. Muslim).<br/><br/>Do'a-do'a iftitah berikut adalah do'a yang dibaca Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika shalat malam:<br/><br/><b>Do'a keenam </b><br/>Allaa-humma rabba jib-riila wa mii-kaa-iil wa israafiil. Faa-thiras samaa-waati wal ardl. 'aali-mal ghai-bi was syahaa-dah. Anta tahkumubai-na 'ibaa-dik fii-maa kaa-nuu fiihi yakh-tali-fuun. Ihdi-nii limakh-tulifa fiihi minal haqqi bi-idznik. Innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraa-tim mustaqiim.</ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b><br/>(Ya Allah, Tuhan Malaikat Jibril, Mika'il dan Isrofil, Pencipta Langit dan Bumi, Yang mengetahui Alam Ghoib dan Alam Nyata, Engkaulah Hakim di antara hamba-hamba-Mu di dalam hal-hal yang mereka perselisihkan.<br/><br/>Tunjukkanlah kebenaran kepadaku di dalam apa yang mereka perselisihkan itu dengan idzin Engkau, karena sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus<br/><b>Do'a ketujuh </b><br/>Al hamdu lil-laah (10 X) <br/>Allaahu akbar (10 X) <br/>Laa-ilaaha-illallaah (10 X) <br/>Subhaa-nallaah (10 X) <br/>As-tagh-firullaah (10 X) <br/>Allaah-hummagh fir lii wah-dinii war-zuqnii wa 'aa-finii(10 kali) <br/>Allaah-humma innii a-'uudzu bika minad Dhii-qi yaumal hisaab (10 kali) <br/>(HR. Ahmad & Abu Daud dan dishahihkan Al Albani)</ul><br/><br/><b>Do'a kedelapan </b><br/>Allaahu akbar (3 kali) Dzul-malakuut wal jaba-ruut wal kib-riyaa' wal 'a-dza-mah</ul><br/><br/><b>Artinya :<br/></b>(Allah Maha Besar 3x, Yang Mempunyai Kerajaan yang Amat Besar, Kekuasaan, Kebesaran dan Keagungan). <br/>(HR. Abu Daud dan dishahihkan Al Albani).</ul><br/><br/><b>Kesalahan bacaan sholat terkait membaca do'a iftitah:</b><br/><ol><li> Tidak membaca do'a iftitahpadahal ada kesempatan untukmembacanya. Karena sikap ini berarti menyia-nyiakan sunah dalam shalat.<br/><br/>Imam Syafi'i rahimahullah mencela sikap orang yang tidak meniru cara shalat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.<br/><br/></li><li> Makmum yang ketinggalanmenyibukkan diri dengan membaca doa iftitah, padahal imam sudah mau rukuk. Koreksi ini bukanlah saran agardo'a iftitah ini ditinggalkan totalketika menjadi makmum.<br/><br/>Namun jika waktu yang dimilikioleh makmum itu terbatas karena imam sebentar lagi mau rukuk maka sebaiknya makmum mendahulukan yang wajib dari pada yang sunah.<br/><br/>Dan telah diketahui bersama bahwa do'a iftitah hukumnya sunah sedangkan membaca al-fatihah hukumnya wajib. Oleh karena itu, selayaknya makmum yang ketinggalan danimam sudah mau rukuk maka sebaiknya makmum tidak perlumembaca iftitah namun langsung membaca al fatihah.<br/><br/>Dikisahkan bahwa Ibnul Jauzi pernah shalat dibelakang gurunya Abu Bakr Ad Dainuri. Ibnul Jauzi ketinggalan dan imam sudah mau rukuk. TetapiIbnul Jauzi malah sibuk membaca do'a iftitah. Ketika mengetahui hal ini, gurunya menasehatkan:<br/><br/>"Sesungguhnya ulama berselisih tentang wajibnya membaca surat al fatihah di belakang imam, namun merekasepakat bahwa do'a iftitah adalah sunnah. Maka sibukkanlah dirimu dengan yang wajib dan tinggalkanlah yang sunah." (Al Qoulul Mubin, dinukil dari Talbis Iblis).<br/><br/></li><li> Imam membaca do'a iftitahterlalu panjang. Yang lebih tepat adalah selayaknya imam memilih doa iftitah yang pendek.<br/><br/></li><li> Memilih do'a iftitah satu saja dan meninggalkan do'a yang lain. Kemudian do'a yang dipilih tersebut dibaca dalam semua shalat dari sejak SD sampai tua.<br/><br/>Kesalahan ini memberikan dampak buruk sebagai berikut: Sunah adanya bacaan iftitah yang lain menjadi hilang dan tidak lestari. Karena ketika banyak orang meninggalkannya maka orang akan menganggap itu bukan ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.<br/><br/>Munculnya sikap fanatisme golongan. Sebagimana yang terjadi di tempat kita. Orang yang iftitahnya: Allaahumma baa'id bainii' dianggap golongan A, sedangkan yang iftitahnya: Allaahu akbar kabiiraa 'dianggap golongan B. Ini adalah musibah yang menimpa kaum muslimin indonesia.</li></ol><br/><br/>Kita ucapkan innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Orang yang shalat menjadi kurang bisa khusyu'. Karena orang yang hafal satu bacaan iftitah saja maka setiap memulai shalat secara otomatis dia akan membaca do'a tersebut tanpa merenungkan terlebih dahulu.<br/><br/>Berbeda dengan orang yang hafal beberapa macam do'a iftitah, maka sebelum membaca dia akan merenungkan terlebih dahulu do'a apa yang harus dia baca.<br/><br/>Semoga tutorial bacaan sholat ini bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin agar dapat mengamalkan dan mempraktekkannya dalam ibadah shalat sehari-hari.<br/><br/>

Bacaan doa Duduk Tasyahud Awal/Akhir

<b> Bacaan doa Duduk Tasyahud Awal: </div><hr/><div class="list2"></b>5.Juni.2013<br/><br/><b>1. Bacaan ketika duduk tasyahud awal ada 2 : </b> bacaan tasyahud dan bacaan shalawat<br/><br/><b>2. Bacaan doa tasyahud hukumnya wajib, </b>berdasarkan perintah Nabishallallahu 'alaihi wa sallam, dalam hadis, "Apabila kalian duduk setelah mendapat 2 rakaat, ucapkanlah: At-TahiyatuLillaah, was shalawatu wat Thayyibaatc" (HR. Ahmad, An-Nasai, dan dishahihkan Al-Albani).<br/><br/><b>3. Sedangkan bacaan shalawat ketika tasyahud awal hukumnya anjuran dan tidak wajib.</b> Sebagaimana keterangan Imam Ibnu Utsaimin dalam Syarh Muntaqal Akhbar.<br/><br/><b>4. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan berbagai macam lafadz tasyahud. </b> Sikap yang benar adalah mengamalkannyasecara bergantian. Agar kita bisa mengamalkan semua sunah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan melestarikannya, sehingga tidak dilupakan.<br/><br/>Berikut beberapa bacaan tasyahud yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabat,<br/><br/><b>a. Bacaan tasyahud Ibnu Mas'ud ,</b>Ibnu Mas'ud mengatkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajariku bacaan tasyahud sebagaimana beliau mengajariku surat Al-Quran. Bacaannya:<br/><br/>ATTAHIYYATU LILLAH, WAS SHALAWAATU WAT THAYYIBAAT, ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALAA IBAADILLAAHIS SHAALIHIIN. ASY-HADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY-HADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHUU WA RASUULUH. (HR. Bukhari dan Muslim)<br/><br/><b>b. Bacaan tasyahud Ibnu Abbas ,</b> Ibnu Abbas mengatakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajari kami bacaan tasyahud berikut,<br/><br/>ATTAHIYYATUL MUBAARAKAATUS SHALAWAATUT THAYYIBAATU LILLAAH, ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALAA IBAADILLAAHIS SHAALIHIIN. ASY-HADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY-HADU ANNA MUHAMMADAN RASUULULLAAH (HR. Muslim dan Abu Daud)<br/><br/><b>c. Bacaan tasyahud Ibnu Umar, </b> Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca doa tasyahud berikut,<br/><br/>ATTAHIYYATU LILLAH, AS- SHALAWAATUT T-THAYYIBAAT, ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALAA IBAADILLAAHIS SHAALIHIIN. ASY-HADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ASY- HADUANNA MUHAMMADAN 'ABDUHUU WA RASUULUH. (HR. Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)<br/><br/><b>d. Bacaan tasyahud Umar bin Khatab, </b> Khalifah Umarbin Khatab pernah berkhutbah mengajarkan tasyahud berikut,<br/><br/>ATTAHIYYATU LILLAH, AZ- ZAAKIYAATU LILLAH, AT- THAYYIBAATUS SHALAWAATU LILLAAH. ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI. ASSALAAMU'ALAINAA WA 'ALAA IBAADILLAAHIS SHAALIHIIN. ASY-HADU AL- LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY-HADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHUU WA RASUULUH. (HR. Malik dalam Al-Muwatha', Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf, dan dishahihkan Al-Albani)<br/><br/><b>e. Bacaan tasyahud Abu Musa, </b> Dari Abu Musa, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika kalian duduk tasyahud, pertama yang hendaknya dia baca:<br/><br/>ATTAHIYYATUT THAYYIBAATUS SHALAWAATU LILLAH, ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALAA IBAADILLAAHIS SHAALIHIIN. ASY-HADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY-HADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHUU WA RASUULUH.<br/><br/><b>f. Bacaan tasyahud A'isyah </b>Dari Al-Qosim bin Muhammad, bahwa A'isyah mengajari beliau lafadz tasyahud,<br/><br/>ATTAHIYYATUT THAYYIBAATUS SHALAWAATUZ ZAAKIYAATU LILLAH, ASSALAAMU 'ALA' NABIY WA RAHMATULLAH. ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALAA IBAADILLAAHIS SHAALIHIIN. ASY-HADU AL- LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY-HADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHUU WA RASUULUH. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushanaf dan dishahihkan Al-Albani)<br/><br/><b>5. Dianjurkan untuk membaca shalawat setelah membaca tasyahud,</b> sebagaimana hal ini pernah dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau duduk tasyahud awal. (HR. Abu Awanah, An-Nasai dan dishahihkan Al-Albani).<br/><br/><b>6. Dibolehkan untuk berdoa apapun</b> setelah membaca tasyahud dan shalawat pada saat duduk tasyahud awal. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,<br/><br/>Bacalah ketika tasyahud awal:"ATTAHIYYATU LILLAH, WAS SHALAWAATU WAT THAYYIBAAT kemudian pilihlah doa yang kalian inginkan, dan bacalah doa itu." (HR. Bukhari) Misalnya, ketika setelah membaca doa tasyahud, shalawat, kemudian kita membaca doa Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah dst.<br/><br/><b>7. Setelah tasyahud awal, bangkit ke rakaat ketiga</b> dengan bertumpu pada kedua tangan.<br/><br/>www.CaraSholat.com<br/><br/><br /><br />link lama ; saffar.xtgem.com

Do'A Duduk Diantara Dua Sujud :

<b> Do'A Duduk Diantara Dua Sujud : </div><hr/><div class="list2"></b>19.Maret.2013<br/><br/>Doa ketika Duduk di Antara DuaSujud Ada beberapa doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika duduk diantara dua sujud, berikut diantaranya,<br/><br/><b> Pertama :<br/></b>Rabbigh-fir lii, war hamnii, waj-bur nii, war-fa'-nii, wah-di- nii, wa 'aafi-nii, war-zuq-nii<br/><br/><b>Kedua :<br/></b>Rabbigh-fir lii.., Rabbigh-fir lii..<br/><br/>Kesalahan ketika Duduk di Antara Dua Sujud<br/><br/><b>1. Tidak thumakninah</b> ketika duduk di antara dua sujud, padahal thumakninah dalam setiap rukun shalat merupakan rukun dalam shalat. Sehingga tidak thumakninah ketika duduk di antara dua sujud, bisa membatalkan shalat.<br/><br/><b>2. Tidak menegakkan punggung ketika duduk</b> di antara dua sujud. Padahal, dia mampu untuk duduk dengan tegak sempurna. Perbuatan semacam ini termasuk membahayakan shalat,<br/><br/>karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada orang yang shalatnya batal untuk melakukan gerakanrukun shalat dengan sempurna. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang cara shalat yang sempurna, "Kemudian dia membaca 'Allahu akbar' dan mengangkat kepalanya sampaitegak sempurna."<br/><br/><b>3. Meninggalkan sunah ketika duduk</b> di antara dua sujud. Di antara sunah yang banyak ditinggalkan adalah 'memperlama duduk di antara dua sujud'. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terkadang memperlama duduk di antara dua sujud, sampai makmum mengatakan, 'Beliau lupa.'<br/><b>(H.R. Bukhari)</b><br/><br/>Ibnul Qayyim mengatakan,"Sunah semacam ini ditinggalkan banyak orang setalah berakhirnya zaman para sahabat." (Zadul Ma'ad, 1/230)<br/><br/>sumber :<br/>www.CaraSholat.com<br/><br/>

Bakti Kepada OrangTua Yang Sudah Meniggal Dunia

Berbakti kepada orangtua yg sudah meninggal dunia Dpt dilakukan dgn berbagai cara. Salah satunya dgn mendoakan dan beristighfar memohon amp...